Kamis, 8 Oktober 2009 oleh rayafahreza
Belum ada greenlight untuk cerita dan konsep yang saya ajukan setelah TMK, dan walau setelah pembicaraan dengan executive producer tempo hari beliau mengatakan akan mempertimbangkan lagi setidaknya 2 dari 5 cerita yang saya ajukan, rasanya belum ada tanda-tanda progres sama sekali. Sementara itu, saya mesti mencari cara supaya dapur tetap ngebul. Sekarang dengan situasi begini ya pastinya nggak ada income, tapi alhamdulillah justru giliran istri yang ada rejeki. Minimal ada nafas sedikit. Terus terang ya ada stress dan depresi juga, tapi berusaha dilupakan. Harus ada langkah maju, tapi apa ya?
Inilah masalahnya kalau tidak punya skill yang spesifik. Saya bisa banyak hal, mengetahui ini dan itu tapi jarang sekali yang saya kuasai utuh. Misalnya, saya memang menangani produserial, tapi karena pola kerja di tempat saya membuat film berbeda dengan tempat lainnya, jadi agak rancu. Saya pun menulis cerita, tapi skenario penuh belum pernah saya tulis. Akhirnya jadi agak setengah-setengah. Di saat ini memang ada teman mengatakan kenapa nggak mencoba aja handle produserial di yang lain, misalnya jadi produser lepasan untuk iklan atau videoklip? Hmm… Menarik, tapi kok nggak pede ya, kayaknya alamnya beda soalnya. Jadi saya putuskan mau mencoba jalan yang satu lagi yaitu menulis.
Bukan sesuatu yang saya cita-citakan, tapi kelihatannya harus dimulai dari situ lagi. Soalnya, minimal kalau saya sudah bisa menulis satu skenario utuh yang diproduksi, minimal artinya saya menguasai satu skill dasar. Hah. Hari gini baru mulai. Tapi nggak apa-apalah. Inget, dapur mesti ngebul. Semoga nggak harus balik nggawe di TV, udah jauh-jauh sampai produksi 2 film layar lebar bukan cuma buat balik lagi kerja di TV.
Ditulis dalam Ocehan Bebas | 1 Komentar »
Selasa, 8 September 2009 oleh rayafahreza
Oke, berkat distribusi yang ngasal, TMK nggak sebagus SKB. Dan ternyata, kemarin bukan salah siapa-siapa selain pihak internal yang melepaskan distribusi ke pihak bioskop tanpa ada persetujuan tertulis untuk pilihan dan jumlah gedung. Ceroboh sekali. Kalau saya yang melakukan itu, pasti saya sudah digantung, ditendang, atau mungkin disuruh mengganti kerugian. Sekarang, mau ngomong apa selain nyengir. Kalau dibilang jadi pelajaran, ya mestinya nggak usah begini cara belajarnya. Amatiran juga tahu bahwa untuk distribusi produk, kita harus ada proper written agreement dengan pihak yang akan mendistribusikan produk kita. Kalau nggak, siap-siap aja getting screwed.
Secara film, melihat dari reaksi penonton, TMK berhasil di sisi komedi namun memang tidak ada moment horror yang bikin penonton kaget. Dalam hal horor nya, SKB, walaupun cupu abis, tetep lebih berhasil. Lalu pembagian scene komedi pun harus diperbaiki. Penggunaan parallel cutting di tengah act 2 dan masuk act 3 akhirnya malah mengganggu karena membuat adegan tidak ada yang tuntas. Walau memang secara konsep editing cukup dinamis, udah deh mendingan jangan pake paralel segala. Lain kali bikin yang linear aja, penonton kita lebih sukanya begitu. Banyak pelajaran lah kita dapat dari film ke 2 ini. Tapi sekarang, berikutnya bikin apa?
Sebelum TMK selesai tayang, saya sudah nyiapin satu original draft outline untuk sebuah komedi, tanpa unsur horor. Tapi kelihatannya executive producer masih ragu. Lalu teman-teman di kantor bilang, ayo dong coba bikin yang anak-anak, saya buat lah satu sinopsis yang anak-anak. Cukup fun, saya cukup yakin. Tapi lagi-lagi belum ada kejelasan. Lalu orang kantor mikir, buat yang komedi horor tapi agak seksi. Ya sud saya coba konsepkan, tapi nggak ada tanggapan positif. Kabarnya di kantor punya konsep lama yang pengen di olah, saya kasi tahu aja konsep seperti itu sudah pernah ada yang buat, minimal premise nya mirip, dan nggak gitu jalan. Abis itu, EP nonton itu film dan sesudahnya ngetawain itu film, dibilang film goblok. Jangan ngetawain orang lah, kayak kita yang paling bener aja.
Terus berikutnya mau bikin apa? Banyak bicara soal kualitas, tapi nggak mau keluar budget bagus. Kalau budget cuma seginian ya nggak bakal jauh geraknya di genre ini-ini lagi. Lagipula juga rasanya genrenya TMK dan SKB bisa dibilang evergreen. Tapi sekarang mau bikin yang “bagus”, yang ada “sesuatu”nya, tapi nggak mau spend. Gimana caranya? Nggak banyak film yang bisa dibuat dengan modal minim ala sinetron lalu hasilnya jadi sangat sinematik. Lagipula, saya juga bertaruh di sini, bukan orang gajian. Saya nggak akan ngajuin konsep yang nggak saya yakini akan menghasilkan uang.
Ditulis dalam Ocehan Bebas, Production Diary | Leave a Comment »
Sabtu, 4 Juli 2009 oleh rayafahreza
Ada apa ini? Rilisnya berbarengan, tapi “The Maling Kuburans” kok cuma dikasi di 12 layar/60 show di Jakarta, sementara yang satu lagi keluar bersamaan tapi bisa 20 layar/100 show? Sudahlah begitu, TMK cuma disisakan layar-layar yang agak berat untuk film Indonesia seperti Hollywood KC, La Piazza, Pondok Indah Mall. Sementara semua bioskop yang dikenal sebagai gudang penonton film Indonesia diberikan sepenuhnya ke film yang keluar berbarengan. Seperti Kelapa Gading, Daan Mogot, Slipi, Depok, Detos, Cinere, dan banyak lagi, tidak satupun diberikan ke TMK. Seharusnya bisa lebih berimbang pembagiannya. Ini sama saja dengan mau mematikan film saya sebelum sempat hidup!
Nggak fair. Saya ngerti sekarang sedang banyak film beredar bersamaan, jadwal pun berebut. Logis dan jelas. Itu saya paham sekali, tapi minimal bisa dong ngasi pembagian yang lebih wajar? Kalau seperti ini sih sudah telak-telak ada favoritism. Padahal TMK di hari pertama menunjukkan kemampuan merebut penonton yang sangat potensial. Dibandingkan SKB yang tayang full di 20 layar Jakarta dan juga lengkap di semua kota, hasil hari pertama TMK menunjukkan bahwa kalau saja diberi kesempatan yang lebih fair, bisa melebihi angka Setannya Kok Beneran. Sayangnya, TMK kesannya malah digencet duluan.
Saya nggak tahu mau ngomong apa lagi. Nggak, saya nggak nyerah. Tapi rasanya mau marah. Saya dan teman-teman kerja keras mengolah film ini dari nol selama 6 bulan. Ketika dengar akan keluar ditengah persaingan yang berat, saya nggak terlalu khawatir karena persaingan itu hal biasa. Tapi kalau dalam cara bersaingnya ada yang nggak wajar, wah… Susah mau berkompetisi. Yah, pada akhirnya saya mohon doa dan dukungan rekan-rekan aja. Yang penting, filmnya seru, lucu, dan yang nonton ketawa semua dari awal sampai akhir.
Ditulis dalam Production Diary | Bertanda Film, Setannya Kok Beneran?, The Maling Kuburans, TMK | 5 Komentar »
Jumat, 3 Juli 2009 oleh rayafahreza
Intermeso lagiii… Off-topic nggak ngebahas film dulu. Udah lebih dari seminggu sejak ikutan moneygame lewat internet. Yah, emang nggak semuluk judulnya tapi alhamdulillah tiap hari ada hasilnya. Dari mulai 30rb perak sampai 200ribu perak sehari sempat saya rasain, tergantung kita aktif atau nggak dalam ngajakin temen. Dari modal 180 ribu perak, sekarang bisa dibilang saya sudah untung 400%. Not bad buat jajan hari-hari, nambahin uang bensin. Emang nggak nyangka juga bakal mau ikut mainan yang judulnya norak banget, kalau bukan ngeliat hasil temen sendiri mah nggak akan percaya. Mainan macam gini banyak kok dari dulu, tapi kali ini yang satu ini jalannya cepet karena social networking seperti Facebook dan Twitter yang bener-bener merajalela.
Kemaren temen ada yang minta jelasin caranya. Sebetulnya simple sih, saya cuma ngikutin link teman dan join dengan “membeli” e-book yang mereka sediakan seharga 180 ribu rupiah. Setelah daftar, kita akan dapat email yang ngasi tau cara transfer dan lain sebagainya. Uang 180 ribu kita transfer ke webmaster yang kemudian akan dibagi-bagi ke para sponsor diatas kita, tentunya ada porsi tetap buat si webmaster -ya iya lah, dia yang bikin. Setelah kita bayar, lalu konfirmasi, lalu dalam 24 jam kita akan dapatkan aktifasi. Kita diberikan sebuah link yang akan dipakai untuk kita mengajak teman-teman lain dan seterusnya. Sederhana aja kan? Cuma ngajak ke ngajak ke ngajak.
Satu aja saran, kalau ngerasa kelewat ragu dan males ngajak temen, mendingan jangan ikut. Itu baru namanya nipu diri sendiri. Ada sih yang bilang ini penipuan karena anggota terakhir bakal rugi, tapi, mana ada yang namanya anggota terakhir? Kecuali ya itu anggota emang segitu parahnya nggak bisa dapetin downline sama sekali. Satu lagi, kita jangan sekali-sekali maksain orang join, apalagi kalau udah ketahuan itu orang kuper dan nggak bisa dagang. Susah di dia ntar. Kalau emang merasa gitu, jangan join. Sementara, buat yang punya banyak temen di Facebook, maupun di mana saja, dan merasa bisa ngajak, ini bisa jadi cara nyari uang jajan yang seru.
Rasanya sih netter pasti udah denger moneygame yang satu ini. Jangan peduliin janji muluk 5 milyar, itu mah bullshit. Kalau merasa nggak cocok, jangan join, tapi kalau merasa bisa ngajakin temen, dan temen-temennya juga kayaknya berpotensi, ayo gabung. Duit 180 ribu bisa abis sekejap dipake jajan atau bisa kita puterin, itu pilihan. Kalau berminat, gabung saya di sini.
Sebelumnya juga saya sudah menulis tentang cari uang pakai moneygame ini, silakan dilihat di arsip tulisan saya sebelum yang ini.
Ditulis dalam Internet | Bertanda bisnis di internet, bisnis modal kecil, cari duit, cari uang, Internet, Tips & Tricks | Leave a Comment »
Senin, 29 Juni 2009 oleh rayafahreza
Alhamdulillah, setelah lama berkutat dengan berbagai proses produksi akhirnya pada hari Minggu 28 Juni 2009 kemarin TMK diputar di 4 layar Blok M Plaza 21, dalam acara nonton bareng. Seperti sebelumnya, kami memang memilih mengadakan acara “nonton bareng” dimana tim publicicst menyebar 1200 undangan ke arah target audience seperti pelajar SMP, SMU, pembaca tabloid, pembaca majalah, koran, pendengar radio dan lainnya. Memang bukan layaknya premiere yang lebih prestise dimana undangan hampir mayoritas pers dan pemain industri film dan relasinya. Mengapa kami memilih acara “nonton bareng” dengan mengundang penonton awam ketimbang acara “gala premiere” yang lebih bergengsi dan dihadiri penggede-penggede? Jawabannya, karena dengan penonton yang adalah murni penonton awam, reaksi dan tanggapan atas film bisa lebih valid karena tulus. Semua datang dengan tujuan menonton, murni. Dan kita bisa langsung mengetahui apakah adegan/cerita/apapun yang kita buat dapat berhasil menciptakan emosi yang kita inginkan.

Pagi-pagi penonton TMK sudah ngantri nukerin undangan

Saya dan para maling kuburan yang lengkap hadir
Kalau di acara gala premiere yang mana lebih mengundang VIP, relasi dan pers saja, reaksi dan sambutan penonton biasanya belum bisa dijadikan tolok ukur. Sebagian karena memang yang menonton ini bukanlah orang awam, sebagian lagi memang karena suasana pun sudah sangat berbeda. Sulit sekali menakar apakah film kita “jalan” atau nggak, dari format gala premiere.

Pers pun cukup antusias mewawancara para 'Maling'
Dalam hal The Maling Kuburans, alhamdulillah begitu scene 1 TMK dimulai, penonton sudah dibuat ngakak oleh adegan geblek yang kemudian masih berlanjut ke scene berikutnya. Apa yang saya dan Deden Tristanto pelajari dari pengalaman di SKB dipraktekkan lagi di sini dan ternyata bekerja. Senang sekali rasanya. Sepanjang film penuh tawa, naik-turun alur cerita pun tetap diiringi tawa. Dan seperti biasa, kehadiran Tessy sang komedian senior selalu berhasil mengocok perut. Sayangnya saya nggak bisa ceritain di sini. Nonton aja The Maling Kuburans, mulai 2 Juli nanti. Ini terbukti sebuah film yang terancang untuk kenikmatan maksimal jika ditonton beramai-ramai. Pokoknya jadi heboh deh!
Ditulis dalam Production Diary | Bertanda Donita, Film, Horor, Indra Birowo, Komedi, Kuburan, Kuntilanak, Pocong, Syahrini, The Maling Kuburans, TMK | 4 Komentar »
Rabu, 24 Juni 2009 oleh rayafahreza
Bisa dibilang ini hari +2 saya ikutan arisan internet (yang namanya norak banget) ini. Alhamdulillah, sejak hari aktivasi sudah balik modal dan di hari +1 dan +2 ini mulai mencari keuntungan. Seberapa menguntungkan? Nggak muluk amat lah, modal 180 ribu perak selama 3 hari sudah berganda. Entah bisa berlangsung panjang atau nggak, saya nggak tahu. Pastinya harus tetap usaha dan jangan menyerah. Ikutan arisan macam ini memang menguntungkan kalau kita sempatkan waktu tiap harinya mengajak siapa saja.
Nah, sesuai judul, rupanya selebritis dan public figure pun ada yang ikut. Beberapa level diatas saya ada nama Fedy Nuril, katanya sih itu beneran sang aktor. Soalnya emang sponsor gue ke atas itu sutradara dan orang-orang pekerja film lah. So, kebayang betapa menyenangkannya kalau jadi public figure yang punya fans, cukup mengajak sekali, pasti banyak yang mau ikutan. Muluknya, andaikan nih seorang seperti SBY ngajak, beuh… Berapa juta tuh yang ikutan? Untung nggak mungkin dia ikut arisan beginian. Anyway, pagi ini saya bangun dan dapat email ternyata pak Leo Lumanto, spiritualis yang kondang bergabung dibawah sponsor saya.
Kami teleponan dan saya bilang, waduh kalau dengan pak Leo pastinya gampang sekali usaha mencari member. Sudah tahulah figur pak Leo dan kredibilitasnya. Bukan orang sembarangan. Jadi kalau seorang Leo Lumanto aja ikut arisan begini, ya mestinya bukan mainan tipu-tipu lah. Saya bilang ke pak Leo, alhamdulillah saya sih kemarin dalam setengah hari pertama sudah balik modal. Pak Leo pun bilang dia iseng-iseng aja mau coba. Dan bener aja, baru aja pak Leo menulis tentang ini di status Facebook-nya, dibawah 20 menit sudah ada email masuk ke saya yang mengabari bahwa sudah ada 3 orang yang masuk bergabung dibawah sponsor pak Leo. Emang beda ya kalau public figure.
Anyway, hoki orang beda-beda. Saya butuh setengah hari untuk balik modal. Leo Lumanto hanya butuh dibawah 1 jam untuk mulai mendapatkan laba. Sementara ada juga satu teman yang saya sponsori sudah satu hari belum ada pergerakan. Saya selalu berusaha membantu teman yang saya sponsori, karena saya ingin semuanya diuntungkan. Minimal, cukup ajak 4 kerabat dekat bergabung, kita sudah balik modal.
Hari ini saya alhamdulillah untung 100rb. Oke, jauh dari angka milyaran yang dijanjikan website itu. Tapi 100ribu rupiah itu pun bukannya kecil. Darimana lagi kita bisa dapat tambahan uang seperti itu di jaman susah begini? Saya senang mengambil keputusan untuk ikut arisan ini. Walaupun namanya norak sekali dan muluk, tapi terbukti saya yang bego dagang pun bisa mendapatkan penghasilan tambahan tiap harinya. Uang Rp180 ribu memang tidak sedikit, tapi sangat amat murah dibanding keuntungan harian yang bisa didapat, asal mau usaha mengajak rekan dan kerabat. Nggak usah jadi selebiriti pun bisa. Saya udah ngebuktiin sendiri. Besok saya update lagi insyaAllah.
Ditulis dalam Internet | Bertanda bisnis di internet, bisnis modal kecil, cari duit, cari uang, Tips & Tricks | Leave a Comment »
Selasa, 23 Juni 2009 oleh rayafahreza
Nerusin tulisan saya yang kemarin soal cari uang pakai internet atau cari duit di internet. Ternyata bener, skema-nya bekerja. Dalam setengah hari, modal saya yang Rp.180 ribu sudah kembali, jadi sekarang mau mulai mencari profit. Emang ternyata kalau mau usaha, kadang ada mainan macam arisan begini yang bisa kita pakai untuk cari pendapatan tambahan. Syaratnya cuma satu, ya mesti ajak teman dan kerabat. Kalau cuma bayar dan ongkang kami ya nggak akan ada pemasukan.
Dulu saya ragu ikutan beginian karena kayaknya tipu-tipu gitu, lagipula nggak ada orang yang saya kenal yang ikutan, sekarang karena teman (baca tulisan saya sebelumnya) saya pun ikutan nyoba dan dalam hitungan hari udah untung besar. Bukan bullshit! Ini dibilang bisnis ya bisa, dibilang arisan ya bisa. Pastinya dengan internet, yang punya Facebook, Friendster, Multiply atau blog apapun sekarang bisa lebih punya peluang mencari uang bersama.
Arisan yang saya ikuti ini menamakan dirinya “Bisnis 5 Milyar”. Nggak usah tergoda dengan 5 milyar, itu sih hampir mustahil, tapi modal 180 ribu dapet sejuta kan udah untung, ya kan? Yah, saya belajar kali ini, ikutan sebelum kebanyakan teman saya ngikut. Buat yang minat usaha cuma modal 180 ribu perak, saya undang gabung di link ini.
Ditulis dalam Internet | Bertanda arisan, bisnis di internet, bisnis modal kecil, cari duit, cari uang | 1 Komentar »
Senin, 22 Juni 2009 oleh rayafahreza
Nggak terasa, udah lama sejak Nikon D90 dirilis, udah lama sejak saya nulis banyak hal soal Nikon D90 di blog ini. Harga udah sempat naik turun, dari jamannya belum ada yang garansi Alta, sampai habis, sampai ada lagi. Mulai banyak videografer amatir dan film enthusiast yang melirik si D90 ini karena kemampuan moda D-movie nya. Tapi setelah mencoba sendiri, ada hal-hal yang mutlak mesti disadari sebelum mikir untuk bikin film yang (agak) serius pakai D90. Dulu sudah pernah saya bahas, tapi setelah nyoba sendiri, jadi berasa banget beberapa point ini.
1. WAJIB GUNAKAN TRIPOD, TITIK.
Sedikit saja body bergoyang, efek jello akan langsung terlihat di gambar. Ini masalah rolling shutter.
2. TIDAK BOLEH ADA LAMPU NEON/FLUORESCENT, TITIK.
Begitu ada neon, banding alias garis scan yang bergeser pun muncul. Lupakan niat pake Kinoflo.
3. TIDAK BISA PAN CEPAT ATAU MEREKAM BENDA BERGERAK HORISONTAL CEPAT
Lagi-lagi masalah rolling shutter, ketika gerakan horisontal cepat, akan terjadi skewing.
4. TIDAK ADA SETTING MANUAL KECUALI FOKUS
Sadari hal ini. Ada triknya di blog ini, tapi sekedar trik, bukan cara set yang absolut.
Nah, setelah tahu batasan-batasan disana, bukannya mustahil bikin naratif yang memukau dengan D90. Okelah, yang ada banyak uang akan beli Canon 5DmkII yang baru saja dapat firmware baru yang memungkinkan kontrol manual. Tapi buat yang budgetnya terbatas, gambar Nikon yang lebih film-ish juga bisa mempesona orang. Sekarang pun ada yang lebih murah, Nikon D5000, tapi itu saya akan bahas lain kali. Sudah tahu kelebihan dan kekurangan alat yang kita punya, mestinya kita bisa merancang cerita yang juga pas bisa dihandle oleh si D90 ini.
Ditulis dalam Peralatan Film, Tips & Tricks | Bertanda 5D MkII, D90, Film, Kamera, Nikon, Video | 5 Komentar »
Senin, 22 Juni 2009 oleh rayafahreza
Sekali-sekali off topic dulu, bahas cara nyari uang di internet. Ya, beneran, cari duit di internet! Buat apa aja, jajan kek, lunasin hutang, apa aja. Ini gara-gara si Dwi, sahabat dan sutradara saya di The Maling Kuburans. Kemarin waktu kita ngumpul bareng wartawan untuk press conference The Maling Kuburans, doi lagi girang banget. Pagi-pagi memang dia ada posting link di Facebook-nya tentang ngajakin ikut Bisnis5Milyar, saya mah cuek aja males. Itu sebelum tahu yang dialami Dwi.
Rupanya dia ikut Bisnis5Milyar ini cuma karena nolongin temen aja, terus iseng posting di Facebook. Kenapa dia girang? Karena ternyata duitnya yang 180 ribu perak dalam 24 jam udah jadi 1 jutaan. Kalau bukan temen sendiri, bukan ngeliat sendiri, saya nggak bakal percaya. Udah biasalah yang kayak gini di internet, macam AsiaBersama gitu, tapi berhubung kali ini saya ngeliat sendiri account banknya dan bukti transfer masuk. Akhirnya istri saya duluan ikut, dan saya menyusul. Bener, begitu saya gabung aja istri saya dan Dwi langsung dapat transfernya. Lanjut!
Agak telat sih saya ikutannya, tapi yah nggak apa-apa. Perkembangannya akan saya update terus di blog ini. Yang pasti, si Dwi terakhir udah dapet hampir 8 juta dari modal 180 ribu perak dan posting di Facebook doang. Nggak apa-apa dong saya ikutan cari duit di internet buat beli Ninja 250R. Atau ya, buat melunasi hutang, buat benerin mobil, apa aja. Yang penting bukan judi dan nggak ngerugiin siapapun. Mau nunggu update saya boleh, mau langsung ikut ya monggo klik di sini. Tapi ini tetep perlu usaha loh ya.
Ditulis dalam Internet | Bertanda bisnis di internet, bisnis modal kecil, cari duit, cari uang, duit, Internet, Ninja 250R, uang | 3 Komentar »
Minggu, 21 Juni 2009 oleh rayafahreza
Donita adalah cast favorit saya di The Maling Kuburans. Artis yang dikenal dari sinetron Cinta Fitri dan film Suster Ngesot ini ternyata berkepribadian yang menyenangkan. Profesional, bekerja serius, selalu on time di set dan tidak pernah mengeluh walau sudah subuh dan kecapekan. Benar-benar menyenangkan kalau ketemu artis yang seprofesional ini. Padahal, jadwal Donita pun bukannya enteng, tapi rasanya syuting berjalan lancar aja.

Donita behind the monitor
Sekilas Donita dari penampilannya nampak seperti sosok yang melankolis dan sangat amat ‘perempuan’. Nyatanya, pembawaannya cukup enerjik dan walau bukan tomboy, tidak terasa seperti kita sedang bersama perempuan dalam artian yaitu kadang agak cuek. Tapi bukan cuek yang slebor atau gimana, minimal bicara dengan Donita nggak perlu terlalu basa-basi. Santai aja.

Donita behind the Scenes
Memang sih, Donita agak kalem tapi bukan berarti pendiam. Bisa rame, bisa heboh-hebohan, tapi yang pasti bukan tipe yang berisik nggak juntrungan. Waktu sedang syuting, kami semua suka memperhatikan Donita suka nyanyi sendiri. Jadi pada komen, eh ni anak kayaknya bisa nyanyi juga ya? Soalnya senandungnya bukan yang ngasal, ketahuan vokal bagus, oalah, ternyata emang lagi nyiapin album. Sekarang malah udah rilis.

Donita in Press Conference
Dan satu lagi yang saya senengin dari Donita waktu syuting The Maling Kuburans, ini anak bekalnya banyak dan macem-macem! Entah itu minuman ringan sampe cemilan kayak Momogi, lengkap di satu tas besar. Katanya dibekalin ibunya, dan kita semua dipersilakan ngambil aja. Enak bener ya bisa makan banyak tapi nggak gemuk-gemuk.
Rasanya semua happy bekerja sama dengan Donita. Pastinya kalau ada produksi lagi yang membutuhkan karakter yang cocok dengan Donita, dari Millenium Visitama Films pasti akan senang bekerja bareng lagi sama Maling Kuburan yang satu ini.
Ditulis dalam Production Diary | Bertanda Donita, Film, Komedi, The Maling Kuburans, TMK | 2 Komentar »