Pengumpan:
Tulisan
Komentar

“Makhluk luar angkasa datang menginvasi bumi secara besar-besaran dan menghadapi perlawanan sengit dari militer.”?Kira-kira begitu mungkin isi buku panduan membuat plot film invasi makhluk asing Hollywood, seperti yang sudah kita sering lihat. Jika memang itu pakem umumnya, maka film Attack The Block mematahkan semua aturan tentang film “alien” dan menghasilkan sebuah hiburan segar yang bebas klise ataupun basa-basi.

Ketika sekelompok berandalan di London Selatan menemukan makhluk aneh kecil yang keluar dari meteorit yang jatuh, mereka kemudian mengejar dan memukulinya sampai mati. Berniat menjualnya ke media, mereka kemudian menitipkan bangkai alien tersebut di ruang khusus persembunyian pengedar narkoba. Tak lama kemudian lebih banyak lagi meteorit yang jatuh membawa makhluk lain yang lebih besar dan menakutkan, dan kali ini giliran para preman cilik ini yang menjadi buruan. Invasi makhluk asing pun dimulai, namun tidak di seluruh dunia. Hanya satu blok di SelatanLondon. Tak ada militer dengan tank dan pesawat tempur yang jadi pelindung bumi, para ‘alien’ menghadapi sekelompok berandalan, pengedar narkoba, dan seorang suster muda korban penodongan.

Nyeleneh, seru dan kocak adalah deskripsi kesan menonton Attack The Block. Tempo cerita dibangun cepat seiring perkenalan satu demi satu karakter yang jauh dari stereotype hero alaHollywood. Semua karakter unik, berimbang dan diperankan dengan baik hingga sepanjang film kita merasa semakin mengenal masing-masing tokoh. Tidak ada yang paling menonjol, tidak ada yang paling jago, semua punya kelebihan dan semua punya kekonyolannya sendiri. Ini yang membuat Attack The Block begitu menghibur, situasi yang paling menyeramkan pun bisa menjadi kocak karena kekonyolan karakter-karakternya. Tanpa ada yang membadut, dialog-dialog polos dan situasi yang cenderung blo’on akan membuat penonton tertawa terbahak-bahak sepanjang film. Hebatnya lagi, kuatnya humor dan komedi tidak membuat Attack The Block kehilangan ketegangan. Cukup banyak adegan yang membuat penonton menahan napas tegang diantara lelucon-lelucon. Semua ini dihadirkan konsisten dalam tempo yang tinggi, sehingga kenikmatan menonton jadi maksimal.

Jika ada kekurangan dari Attack The Block, itu hanyalah bahwa film ini rasanya bukan untuk konsumsi anak-anak. Di balik belianya sebagian tokoh dan kelucuan cerita, sebetulnya setting yang dipakai film ini cukup suram. Geng berandalan yang sudah menodong di usia begitu muda, pengedar narkoba, dan unsur kekerasan ditampilkan dengan blak-blakan. Sutradara Joe Cornish yang juga menulis skenario Attack The Block pun sepertinya memang tidak mau filmnya menjadi pretensius apalagi dibebani “pesan moral”, sehingga jika memang ada anak-anak yang menonton sebaiknya didampingi orangtua.

Didistribusikan di Indonesia oleh MT Entertainment, Attack The Block tayang di Blitz Megaplex mulai 6 Juli 2011. Jika anda kangen akan film asing yang sedang absen, film ini bisa menjadi pilihan terbaik saat ini. Bahkan rasanya, andai pun tidak ada masalah import dan distribusi film MPA, Attack The Block tetap mampu bersaing dengan judul-judul besar dalam hal menghibur penonton. Bersenjatakan kembang api bukan peluru kendali, berkendaraan skuter Pizza bukan mobil sport, Attack The Block adalah film invasi makhluk luar angkasa terunik yang pernah anda tonton, di mana pulsa untuk SMS lebih menentukan hidup atau mati ketimbang senapan laser nan canggih.

Sepertinya sekarang ini jadi pencarian arah buat saya, dan sejauh ini saya cuma bisa menyimpulkan pasti bahwa saya memang cuma suka berkreasi. Sifatnya kreatif, bukan ke arah manajemen atau koordinasi selayaknya produser. Sebatas perencanaan saya masih enjoy, tapi begitu mulai masuk ke persiapan makin kelihatan bahwa produserial bukan bidang utama saya. Entah kenapa tanda-tandanya begitu. Beda dengan istri saya yang memang dari awalnya assistant producer untuk PH, dan sekarang pun jadi event producer. Saya bisa sebagai co-producer, tapi untuk jadi producer, rasanya saat ini saya sudah nggak minat untuk mencoba.

Mendingan konsen aja ke sisi kreatif, dan kembali melakukan yang saya lakukan, menulis dan merancang cerita.

*image from Acer website

Kayaknya semua teman-teman sekeliling saya sudah pakai smartphone, tinggal saya aja yang masih pakai ”hape bego”. Memang saya bukan tipe yang suka dengan hape mahal, apalagi kalau cuma jadi korban mode, tapi makin hari makin jelas bahwa smartphone yang bisa dipasangi macam-macam aplikasi sudah punya fungsi nyata dan bukan sekedar mode. Dari semua yang ada, smartphone berbasis Android menarik saya karena banyak pilihan merk & tipe, tapi selama ini nyoba-nyoba belum ada yang bikin kepincut. Entah keren banget tapi jadinya kemahalan, atau terjangkau banget tapi performanya keteteran. Nah, kemaren ini saya baru nyoba smartphone Android buatan Acer yang sepertinya menjanjikan, namanya Liquid E.

Pertama, saya penasaran pengen tahu kayak apa sih Acer yang jagoan komputer bikin handphone? Laptop & netbook Acer sudah jelas megang pasar di sini, tapi bisa nggak merancang handphone? Saya nggak sempat ke pameran komputer kemarin, tapi untung ternyata ada temannya teman yang sudah beli Acer Liquid E. Saya sempat dikasih nyoba-nyoba ngelus-elus sebentar. Kesan pertama melihat langsung bentuknya, istilah yang kepikir di kepala adalah ”IT banget”. Di mata saya, dibalik garis dan lekuk minimalisnya terasa sekali bahwa Acer aslinya adalah pembuat komputer. Ibaratnya, kalau diletakkan disamping laptop atau netbook, Liquid E terlihat seperti saudara. Body atau casingnya terasa plasticky, tipis dan ringan. Enath untuk menekan harga atau apa, tapi saya percaya Acer sudah perhitungkan kekuatannya. Ukurannya pas, dan rasanya sebesar handset Android kelas atas lainnya. Nggak terlalu tebal tapi juga nggak terlalu tipis, ini menurut saya justru pas karena kalau hape touchscreen terlalu tipis saya megangnya  kurang nyaman. Tapi intinya, selain nyaman, untuk yang nggak suka terlihat ’pasaran’, soal bentuk memang Liquid E tampil beda apalagi dengan warna hitamnya.

*image from Acer website

Kesan yang paling nendang pertama sih terus terang di displaynya yang bukan cuma besar tapi juga tajem banget! Layar 3.5 inci dan resolusi 400×800 memang bikin kepincut. Berasa banget mewahnya karena tampilan tajam dan kemampuannya menampilkan 256 ribu warna membuat display enak dilihat, seperti smartphone yang harganya jauh diatasnya. Tapi karena belum lama ini pernah nyobain Android merk lain yang murmer dengan touchscreen yang nggak responsif, yang saya antisipasi adalah touch screennya. Langsung saja tes swipe dilayar menggeser menu shortcut, dan ternyata nggak ada rasa telat atau lagging. Respon pada sentuhan terasa normal, cepat dan natural. Saya pun berlanjut utak atik menjajal touchcreennya untuk aplikasi yang ada, rasanya oke aja. Jadi, dari sisi display dan touchscreen Liquid E menurut saya termasuk bagus dan memuaskan. Di bawah layar ada 4 ikon touchpad, fungsinya untuk jadi shortcut ke home, search, back & setting. Praktis, cuma agak gampang kesenggol sama jari saya yang gede. Mungkin karena saya belum biasa aja ya.

*image from GSMarena.com

Navigasi di Liquid E luwes saja, sebagaimana layaknya apa yang kita harapkan dari smartphone kelas ini. Utak-atik berlanjut, melihat-lihat aplikasi yang ada di Liquid E ini. Berhubung teman saya ini baru beli, dia belum sempat nambah aplikasi dari Android Market. Buat yang masih doyan Facebook, pastinya Liquid E sudah siap, dan untuk Twitter juga sudah ada app Twidroid. Soal multimedia dan game, Liquid E pun cukup mumpuni tapi saya nggak sempat nyoba banyak. Selama mencoba-coba, nggak terasa lambat atau berat, padahal saya sempat khawatir Android Eclair akan berat untuk prosesor si Liquid E. Nyatanya, cair saja. Katanya, pemilihan prosesor yang dibawah 1gHz ini untuk mengirit batere. Untuk itu mesti punya dulu, baru bisa tahu ya. So far, so good.

*image from Acer website

Yang paling pengen saya coba dari smartphone ini adalah internetnya, dan browsing pakai Liquid E juga terasa cukup cair dan alami. Ukuran layar untuk ukuran handheld cukup royal, dan orientasinya pastinya otomatis berubah sesuai kita memegang handset. Saya lupa teman saya ini pakai provider apa, tapi pastinya kecepatannya lebih dari cukup untuk saya. Seperti biasa, tangan saya yang besar selalu butuh waktu untuk membiasakan pakai touchscreen keyboard di semua smartphone. Membuka-buka internet pakai Liquid E ini bikin saya ngelirik ’hape bego’ saya yang walau setia, pastinya nggak bisa seperti ini. Makin betah aja megang si ’cair’ dari Acer ini, tapi bicara ‘megang’, sekali lagi rasanya yang mungkin perlu diperbaiki cuma materi plastiknya.  Next, coba lihat kameranya.

*image from Acer website

Sempet nyobain kameranya sejepret dua jepret, berhubung terang dan semi outdoor, gambar yang didapat kelihatan bagus di display. Kameranya 5 megapixel, tapi nggak pakai flash. Yah untuk kita yang biasa megang kamera beneran, rasanya flash mini di hape memang juga nggak begitu berguna jadi saya nggak begitu peduli. Bicara motret, sayangnya saya sendiri lupa motret si Liquid E ini, jadinya di sini saya pasang foto dari website Acer aja. Nah untuk video recording saya lihat biasa saja, bukan salah satu kelebihan Liquid E. Saya nggak pernah terlalu berharap banyak dari kemampuan rekam video di handphone. Yang lebih penting dari kamera pastinya masalah koneksi, dan untuk itu si cair ini lengkap dari Bluetooth , WiFi sampai HSPA ada. Lebih dari konektivitas, untuk navigasi pun sudah ada GPS. Google map? Sudah pasti, semua siap digunakan berbagai aplikasi Android yang tersedia. Kelengkapan ini menegaskan status Liquid E sebagai smartphone.

*image from Acer website

Sayangnya nggak bisa lama-lama saya nyobain Liquid E manis itu, karena teman saya itu nerima SMS dan mesti pergi. Waktu ada message, saya baru tahu satu fitur yang saya suka. Keren juga, ternyata di atasnya itu ada indikator tersembunyi yang bisa nyala buat nunjukin ada message. Kalo dikantongin entah message, missed call ataupun indikator batere semua langsung kelihatan tanpa mesti dikeluarin. Ide yang sederhana tapi cukup manis! Pengennya sih nggak usah ngembaliin si Liquid E ini.

*image from Acer website

Dari sedikit waktu saya mengelus-elus smartphone ini, saya jadi kepengen. Semua yang saya tulis ini hanya berdasar beberapa menit ngelus-elus si Liquid E ini, sementara sang pemilik nggak berhenti ngoceh tentang macam-macam fitur keren dari mulai Live Wallpaper sampai segala widget dan autoupdate OS apalah yang nggak sempat saya perhatiin. Dia ngomong terus, tapi saya sibuk sendiri aja ngutak-atik sambil ngiler. Yang kepikiran adalah kalau pakai hape bego aja saya sudah bisa aktif di internet, apalagi dengan smartphone seperti Liquid E ini? Tinggal pakai mobile internet yang mumpuni, beres! Semua ada di kantong. Saking fokus ke kemampuan internet, aplikasi, GPS, dan lainnya, jadi lupa satu fitur utama Liquid E, bisa dipakai nelepon! Dan omong-omong, Acer sepertinya nggak mau menyebut si Liquid E sebagai smartphone, tapi disebutnya “smart handheld”. Sepertinya Acer ingin Liquid E ini lebih dianggap komputer genggam ketimbang telepon. Melihat kemampuannya, sah-sah saja.  Teman saya dan Liquid E-nya yang masih kinclong akhirnya pergi, dan saya kembali bersama hape bego saya. Pada akhirnya untuk Acer dan Liquid E nya, saya mau bilang dengan meniru aksen khas Rianti Cartwright, ”Acer Liquid E, kamu keren sekali yaaa… I like it, good job.”.

Twitter!

Kangen juga ngeblog di sini, sekarang jarang. Selain karena koneksi internet belum langganan broadband lagi, sekarang lagi senengnya online di Twitter!

Facebook memang canggih, tapi soal interaksi dan bersosialisasi rasanya Twitter lebih hidup. Entah kenapa dengan batasan 140 karakter, kebanyakan orang dipaksa menuliskan sesuatu yang padat dan lebih menarik. Yang unik, di Twitter orang bisa mengikuti kita dan kita tak punya kewajiban apapun untuk mengikuti balik. Karena itu timeline Twitter jadi lebih menarik karena isinya memang mereka yang menarik kita, bukan sekadar beramah-tamah ala Facebook.

Twitter lebih pas sebagai social media, bukan sekedar social networking. Dan “status” yang ditulis di Twitter semakin diarahkan untuk berbagi berita, pandangan, ilmu, ketimbang apa yang kita lakukan atau rasakan. Bukan berarti Twitter itu serius, tapi kalau mengikuti tweeps yang cocok, Twitter bisa membuat kita tertawa dan juga belajar dalam saat yang bersamaan. Dan yang lebih penting lagi, menambah teman.

Setelah rencana film anak-anak mendadak dibatalkan di Januari kemarin, saya sedang mencoba mengolah cerita-cerita saya untuk diproduksi dengan partner baru. Kenapa nggak ke ph-ph yang lain aja yang mapan? Rasanya nggak kepengen, karena kalau di ph besar ujung-ujungnya palingan cuma jual skenario sementara saya bukan cuma mau jualan cerita ataupun naskah. Ya kalaupun laku, tentunya, bukan ge’er yakin dibeli. Lebih seru begini, mengolah cerita dari nol dan ikut hampir semua tahapan produksi dari awal sampai ujung. Jadi saya bisa belajar.

Nah, kemarin mantan bos nelepon. Nanya apa saya bisa nulis skenario untuk film televisi. Wah, terus terang aja saya bilang saya belum mampu. Bukan apa-apa, pasti selain dikejar waktu, revisinya banyak. Kalau nulis untuk film malah saya lebih berani masih ada waktu. Akhirnya saya ditawarkan, kalau ada ide cerita mungkin boleh diajukan dalam bentuk cerita atau sinopsis saja. Itu lumayan, saya bisa. Tapi ya, saat ini rasanya kalaupun otak yang sedang lamban ini ada ide bagus bakal saya prioritaskan untuk film aja.

Masih ngotot ya di film? Entahlah, bukan ngotot juga sebenernya, cuma ngejar cita-cita. Walau sekarang ya jujur aja jadi nggak makan karena belum jalan film lagi. Nggak makan hamburger dan steak, maksudnya. Hahaha…

Bagi saya, penonton film Indonesia di era film baru ini layaknya bayi. Suatu saat nanti sang bayi akan menikmati makanan lezat macam steak dan salad, tapi saat ini ia baru bisa memakan bubur. Makanan padat pun belum bisa, jadi jika dipaksakan disuapi steak, jangan kaget bila dimuntahkan begitu saja. Jangankan mencerna, untuk mengunyahnya saja belum bisa.

Si bayi jangan diberi hanya bubur dan bubur lagi, itu sih namanya asal gampang tapi merusak pertumbuhan. Tapi juga jangan langsung paksakan makan daging. Tingkatkan perlahan, dari bubur lunak mungkin ke puree buah pisang. Biar sedikit ada peningkatan mutu, dan masih bisa dicerna. Di film, walau cerita masih simple agar mudah dicerna, tapi production value bisa dinaikkan.

Dan beli makanan bayi pun sesuai kantong, jangan paksakan beli asal mahal tapi kemudian sang orangtua sendiri tak bisa makan layak. Kalau kita tak makan, bisa sakit, bisa mati, dan si bayi pun menyusul. Mau meningkatkan kualitas makanan bayi atau selera penonton film Indonesia? Lakukan dengan bertahap, wajar, memang harus sabar.

Di Depan Kamera

Saya suka bilang “kangen syuting” karena memang suasana syuting itu nggak ada duanya, tapi mungkin yang lebih tepat lagi bagi saya adalah “kangen produksi” karena saya menikmati semua suasana mulai dari persiapan naskah, sampai paling akhir yaitu mencetak copy film. Dalam sebulan ini, rasa “kangen syuting” saya agak terobati karena ikutan membantu syuting untuk dua teman baik saya, Dwi Ilalang dan Rizal Mantovani. Tapi bedanya, kali ini saya yang di depan kamera. nah loh!

Yang pertama itu sebulan lalu menjelang natal, membantu Dwi membuat dummy trailer film laga. Yah karena masih dummy atau demo, pakai pemain seadanya. Saya diminta bantu mengadakan pasukan ala swat untuk beberapa adegan dan saya sendiri disuruh ikutan dapat peran jadi ‘inspektur polisi’. Oh, saya mah senang aja. Pas mau take, adanya saya malah lebih mikirin cara ngomong saya supaya nggak monyong, gelagepan deh. Mana dialog baru dikasi di tempat. Belum lagi yang pertama scene saya di rooftop TVRI, udahlah siang tengah hari, pake jas & dasi, lampu HMI di kiri dan kanan cuma jarak 2 meter. Keringetan sampe tukang make up kewalahan tiap menit mesti ngelap. Seru aja, saya seneng. Cuma jadi pengen sekali bisa belajar bicara yang jelas tanpa gelagepan karena mikirin mulut. Kenapa mikirin mulut? Saya kalau ngomong itu bukan yang mangap, males buka mulut, jadi di foto pasti jelek. Apalagi di film.

Nah yang kedua itu kemaren, Minggu 24 Januari. Rizal mendadak ngubungin saya jumat, nanyain masih mau ikutan di videoclip apa nggak. Ya pastinya hayuk aja saya mah. Dan lagi-lagi, jadi polisi. Tapi kalau sama Rizal saya jadi polisi gaya Los Angeles. Entah kenapa kami emang punya obsesi soal LAPD ini. Untung di last minute seragam lama saya muat, tadinya udah nggak ikutan, jadilah ikutan. Akhirnya saya jadi patrolman seperti biasa, ditemani dua rekan untuk jadi swat. Beda dengan 2 kali kami main pepolisian sebelumnya, kali ini temanya bercandaan. Saya disuruh nangkep dan ngeborgol penyanyi wanita dan memasukkannya ke mobil patroli. Berhubung nggak ada dialog, ya lancar jaya. Nggak ada gelagepan apalagi mikirin mulut dan pengucapan. We had fun.

So anyway, di depan kamera atau di balik layar, dunia film memang menyenangkan. Lumayanlah, menghibur. Sebetulnya, andai saya punya kemampuan, saya pengen juga jadi aktor. Sayang ya itu, ngomong aja blibetan, hahaha. Yah begitulah.

Adegan gini mah saya bisa, hahaha...

Bangkrut di Pergantian Tahun

Saat saya mengetik ini, situasi keuangan sedang parah-parahnya. Belum ada titik terang pekerjaan lagi, sementara semua lumbung sudah habis dikuras. Bertahan hanya karena sisa dan bantuan dari teman dan saudara. Semoga situasi segera membaik karena ini cukup menakutkan.

Di Persimpangan Jalan

Belum ada greenlight untuk cerita dan konsep yang saya ajukan setelah TMK, dan walau setelah pembicaraan dengan executive producer tempo hari beliau mengatakan akan mempertimbangkan lagi setidaknya 2 dari 5 cerita yang saya ajukan, rasanya belum ada tanda-tanda progres sama sekali. Sementara itu, saya mesti mencari cara supaya dapur tetap ngebul. Sekarang dengan situasi begini ya pastinya nggak ada income, tapi alhamdulillah justru giliran istri yang ada rejeki. Minimal ada nafas sedikit. Terus terang ya ada stress dan depresi juga, tapi berusaha dilupakan. Harus ada langkah maju, tapi apa ya?

Inilah masalahnya kalau tidak punya skill yang spesifik. Saya bisa banyak hal, mengetahui ini dan itu tapi jarang sekali yang saya kuasai utuh. Misalnya, saya memang menangani produserial, tapi karena pola kerja di tempat saya membuat film berbeda dengan tempat lainnya, jadi agak rancu. Saya pun menulis cerita, tapi skenario penuh belum pernah saya tulis. Akhirnya jadi agak setengah-setengah. Di saat ini memang ada teman mengatakan kenapa nggak mencoba aja handle produserial di yang lain, misalnya jadi produser lepasan untuk iklan atau videoklip? Hmm… Menarik, tapi kok nggak pede ya, kayaknya alamnya beda soalnya. Jadi saya putuskan mau mencoba jalan yang satu lagi yaitu menulis.

Bukan sesuatu yang saya cita-citakan, tapi kelihatannya harus dimulai dari situ lagi. Soalnya, minimal kalau saya sudah bisa menulis satu skenario utuh yang diproduksi, minimal artinya saya menguasai satu skill dasar. Hah. Hari gini baru mulai. Tapi nggak apa-apalah. Inget, dapur mesti ngebul. Semoga nggak harus balik nggawe di TV, udah jauh-jauh sampai produksi 2 film layar lebar bukan cuma buat balik lagi kerja di TV.

Film Berikutnya, Apa?

Oke, berkat distribusi yang ngasal, TMK nggak sebagus SKB. Dan ternyata, kemarin bukan salah siapa-siapa selain pihak internal yang melepaskan distribusi ke pihak bioskop tanpa ada persetujuan tertulis untuk pilihan dan jumlah gedung. Ceroboh sekali. Kalau saya yang melakukan itu, pasti saya sudah digantung, ditendang, atau mungkin disuruh mengganti kerugian. Sekarang, mau ngomong apa selain nyengir. Kalau dibilang jadi pelajaran, ya mestinya nggak usah begini cara belajarnya. Amatiran juga tahu bahwa untuk distribusi produk, kita harus ada proper written agreement dengan pihak yang akan mendistribusikan produk kita. Kalau nggak, siap-siap aja getting screwed.

Secara film, melihat dari reaksi penonton, TMK berhasil di sisi komedi namun memang tidak ada moment horror yang bikin penonton kaget. Dalam hal horor nya, SKB, walaupun cupu abis, tetep lebih berhasil. Lalu pembagian scene komedi pun harus diperbaiki. Penggunaan parallel cutting di tengah act 2 dan masuk act 3 akhirnya malah mengganggu karena membuat adegan tidak ada yang tuntas. Walau memang secara konsep editing cukup dinamis, udah deh mendingan jangan pake paralel segala. Lain kali bikin yang linear aja, penonton kita lebih sukanya begitu. Banyak pelajaran lah kita dapat dari film ke 2 ini. Tapi sekarang, berikutnya bikin apa?

Sebelum TMK selesai tayang, saya sudah nyiapin satu original draft outline untuk sebuah komedi, tanpa unsur horor. Tapi kelihatannya executive producer masih ragu. Lalu teman-teman di kantor bilang, ayo dong coba bikin yang anak-anak, saya buat lah satu sinopsis yang anak-anak. Cukup fun, saya cukup yakin. Tapi lagi-lagi belum ada kejelasan. Lalu orang kantor mikir, buat yang komedi horor tapi agak seksi. Ya sud saya coba konsepkan, tapi nggak ada tanggapan positif. Kabarnya di kantor punya konsep lama yang pengen di olah, saya kasi tahu aja konsep seperti itu sudah pernah ada yang buat, minimal premise nya mirip, dan nggak gitu jalan. Abis itu, EP nonton itu film dan sesudahnya ngetawain itu film, dibilang film goblok. Jangan ngetawain orang lah, kayak kita yang paling bener aja.

Terus berikutnya mau bikin apa? Banyak bicara soal kualitas, tapi nggak mau keluar budget bagus. Kalau budget cuma seginian ya nggak bakal jauh geraknya di genre ini-ini lagi. Lagipula juga rasanya genrenya TMK dan SKB bisa dibilang evergreen. Tapi sekarang mau bikin yang “bagus”, yang ada “sesuatu”nya, tapi nggak mau spend. Gimana caranya? Nggak banyak film yang bisa dibuat dengan modal minim ala sinetron lalu hasilnya jadi sangat sinematik. Lagipula, saya juga bertaruh di sini, bukan orang gajian. Saya nggak akan ngajuin konsep yang nggak saya yakini akan menghasilkan uang.

Tulisan Sebelumnya »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.