Blackmagic Pocket Cinema Camera: Alternatif Baru

Blackmagic Pocket Cinema Camera

Blackmagic Pocket Cinema Camera

Sementara banyak videographer yang selalu tertarik dengan banyak kamera-kamera baru seperti Canon C-series atau sang pendatang ‘underdog’ Blackmagic Cinema Camera, saya belum begitu merasa tertarik. Kenapa? Soalnya untuk pekerjaan saya saat ini kemampuan video DSLR sudah cukup, dan ¬†harga ke semua mainan baru itu masih sangat tinggi. Dan ini kita belum bicara soal workflow dan lain-lainnya. Baru dari NAB kemarin ada kabar yang lumayan membuat saya jadi melirik, kali ini Blackmagic Design meluncurkan satu lagi kamera video, tapi dengan bentuk dan harga yang relatif ‘kecil’, namanya Blackmagic Pocket Cinema Camera.

Mengusung sensor ukuran Super 16 yang memberikan video full HD dengan dynamic range sebanyak 13 stop, Blackmagic Pocket Cinema Camera menjanjikan kualitas video yang lebih baik daripada DSLR. Terutama di set yang terang. Dengan ukuran yang sepertinya kurang lebih sama dengan Sony NEX atau Samsung NX, BMPCC menggunakan lensa mount MFT. Belum ada kabar apakah akan ada versi lensa EF mount seperti abangnya, BMCC. Saya nggak akan bahas detil teknisnya karena bisa langsung lihat di website nya, tapi satu yang menarik sekali buat saya adalah harganya, us$995.

Blackmagic Pocket Cinema Camera - MFT Lens

Blackmagic Pocket Cinema Camera – MFT Lens

Jika dengan harga ini bisa lebih baik daripada DSLR mainstream, mungkin bisa jadi alternatif yang menarik walau lensanya di sini nggak begitu populer. Toh kayaknya bisa pakai adapter. Yang belum ketahuan, bagaimana dengan kemampuan low light nya? Kita tunggu saja, kabarnya akan mulai dipasarkan di bulan Juli. Di Indonesia sudah mulai ada yang memesan kakaknya, Blackmagic Cinema Camera, tapi bagaimana dengan si ‘kecil’ ini? Ada yang sudah pesan?

Membuat Timelapse Jarak Jauh Secara ‘Live’ Dengan Samsung Galaxy Camera

Satu manfaat nyata dari ‘connected camera’ seperti Samsung Galaxy Camera adalah kemampuan untuk secara otomatis mengunggah semua hasil jepretan ke cloud storage seperti DropBox, dan adalah ide dari rekan videografer Lucas Ony untuk memanfaatkan ini dalam pembuatan timelapse yang termonitor secara ‘live’ di lain kota.

image

Timelapse semakin sering digunakan di video-video sebagai insert transisi antar segmen, dan pembuatannya masih cukup tradisional dengan intervalometer pada kamera. Kamera disiapkan, ditinggal, atau ditunggui, dan setelah itu baru hasilnya dirangkai sebagai sekuens. Jika ada kesalahan, atau ada masalah dengan kamera, tidak akan ketahuan sebelum selesai semua. Masalah ini bisa diatasi dengan connected camera seperti Samsung Galaxy Camera.

Percobaan timelapse di atas memang sekilas tidak ada yang terlalu istimewa, memang hanya test, keunikannya adalah di pembuatannya. Timelapse ini direkam oleh saya pada suatu pagi di Jakarta Selatan, menggunakan app Camera FV-5 dan dengan fitur auto-upload DropBox dan koneksi 3G di Samsung Galaxy Camera, hasil bisa langsung diterima dan dirangkai puluhan kilometer jauhnya di studio rekan Lucas Ony di Serpong.

Infographic by Lucas Ony

Infographic by Lucas Ony

Ini adalah manfaat nyata sebuah kamera bukan hanya pintar namun juga ‘connected’, terhubung ke internet secara mandiri. Bisa menjadi solusi alternatif pembuatan timelapse jarak jauh yang termonitor. Jika sampai ada kesalahan teknis, atau ada sesuatu yang terjadi pada kamera, semua file sudah aman di cloud.

Alat yang dipakai:

1. Samsung Galaxy Camera

2. Koneksi internet 3G atau WiFi

3. Aplikasi Camera FV-5

4. DropBox

Urutan kerja:

1. Atur Samsung Galaxy Camera agar semua foto otomatis diupload ke DropBox

2. Gunakan app Camera FV-5 dan atur folder outputnya

Preview: Berkenalan Dengan Samsung Galaxy Camera

Samsung Galaxy Camera

Samsung Galaxy Camera

Mainan baru ini saking masih uniknya jadi paling gampang jadi bahan obrolan. Ada 3 pertanyaan pertama yang biasanya keluar kalau bahas benda ini sama teman-teman.

“Eh, apa lagi tuh Samsung Galaxy Camera?”

“Kamera, pakai Android, bikinan Samsung.”

“Hah? Kamera? Beneran?”

“Iya bener, kamera, kalau risoles isi ragout ya namanya Samsung Galaxy Risoles Isi Ragout.”

Lalu biasanya setelah dibilang Android, ada jeda manggut-manggut sejenak dan kita berlanjut ke pertanyaan berikutnya.

“Kamera pakai Android? Jadi maksudnya bisa install app gitu?”.

“Iya. Hampir semua app Android bisa diinstall dan dijalanin di Galaxy Camera, dari Instagram sampai Angry Birds.”

“Wuidiiih, kamera, bisa mainin Angry Birds? Asik dong?”

“Bisa, tapi kalau loe beli kamera buat main Angry Birds, kita nggak temenan.”

Akhirnya megang langsung.

Warna putihnya bagus, cuma saya milih yang blue-black.

Sekarang sudah tahu bahwa Samsung Galaxy Camera adalah kamera berbasis Android yang bisa jalanin app. Pertanyaan masih berlanjut, memang benda ini bikin penasaran.

“Kalau pake Android jadi Galaxy Camera ini bisa online? Wifi?”

“Bisa banget, dia ada Wifi sama 3G. Pakai Micro SIM card gitu.”

Denger pakai SIM card otomatis otak ya langsung mikir handphone. Memang nyeleneh sih, kamera ada SIM card nya, jaman dulu mana kebayang. Dan ya, otomatis pertanyaan berikutnya keluar.

“Bisa dipakai nelepon?”.

“Nggak bisa.”.

“Yaah, udah bisa kamera kok nggak bisa dipakai nelepon? Udah dicoba?”.

“Iya, sama kayak kamera DSLR Canon gue, kemaren juga gue coba buat nelepon, nggak bisa, malah dijauhin orang.”

Setelah tahu bahwa kamera ini memang kebetulan nggak dirancang untuk menelepon, sekarang ke pertanyaan penting lagi, yang biasanya jadi bahasan panjang.

“Berapaan harganya?”

“5-juta’an.”

Pause dulu. Di titik ini yang biasanya bikin orang mikir. Mindset sudah biasa dengan smartphone Android berkamera, sekarang melihat kamera ber-Android yang nggak bisa dipakai menelepon langsung jadi mikir. Argumen dasar langsung keluar.

“Lah, harga segitu gue mending beli smartphone aja, kameranya juga bagus, bisa internet, bisa app, bisa nelepon. Atau DSLR murah.”.

Mungkin banyak yang awalnya akan mikir begitu, dan memang Samsung Galaxy Camera ini punya posisi unik sekali. Dan setelah 2 minggu mainin, baru paham untuk siapa gadget ini bakal berguna banget. Jadi, saya jawab dulu pertanyaan si mas Bro tadi.

“Nah, ini emang unik posisinya. Smartphone ya bisa motret dan upload. Gue juga pake. Tapi, Samsung Galaxy Camera pakai lensa, 20x zoom. Smartphone nggak punya lensa begitu, dan zoom digital di smartphone sama aja naruh kaca pembesar di layar display. Pecah.”.

Sepertinya si mas Bro belum puas karena dia tadi juga membandingkan dengan harga DSLR.”

“DSLR sih gue ada, bisa aja gue pasangin lensa zoom, itu pun beli lagi. Kualitas gambar DSLR jelas menang, tapi jadi berat dan besar, belum tentu tiap saat kita butuh kualitas itu. Apalagi, nggak bisa edit di tempat dan langsung upload. Pakai ini untuk liputan event atau konser, bisa motret dari jauh dan otomatis upload.”.

Di titik ini biasanya teman lagi nyoba-nyoba sambil nyengir dan mulai nggak dengerin. Terutama nyoba zoom 20x nya yang bakal diikuti “Ah gokil zoomnya”, sambil bidik ke cewek yang duduk nun jauh di sana.

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Lensa dengan 20x Optical Zoom

Galaxy Camera ini untuk yang butuh kamera lebih dari smartphone, tapi nggak mau bawa DSLR. Kesimpulan awal, cocok untuk reporter dan apapun liputan yang butuh kirim gambar atau video cepat via internet. Kemampuan optical zoom lensanya bukan hal remeh, dan bukan digital zoom yang menipu seperti di smartphone. Dengan Galaxy Camera ini, reporter bisa memotret atau merekam video dari jarak lumayan jauh tanpa bawa kamera besar dan segera mengirim via internet. Kualitas gambar belum bisa menyaingi DSLR, tapi jelas di atas smartphone rata-rata. Sangat cukup kalau buat saya.

Samsung merancang Galaxy Camera cukup mudah digunakan baik untuk kasual maupun fotografer. Untuk pengguna yang awam, banyak fitur yang memudahkan kita bikin foto-foto kreatif tanpa pusing belajar teknik fotografi. Mau motret pakai app Android aja? Bisa juga. Lalu buat fotografer, Galaxy Camera bahkan menyediakan moda P, A, S dan M ala DSLR. Ini menyenangkan sekali.

Sayangnya, belum sempat hunting foto keluar, karena Jakarta sedang hujan terus. Bahkan kemarin banjir besar. Jadi belum bisa berikan sample yang menarik, dan ulasan yang lebih detil. Untuk sementara, perkenalkan dulu, ini adalah Samsung Galaxy Camera.

20130111_230609

Mainan baru, Samsung Galaxy Camera

20130111_230748

Samsung Galaxy Camera in package.

20130111_230822

Layar sentuh besar masih ditutupi plastik pelindung.

20130111_231025

Kelengkapan Galaxy Camera dalam box. Charger, kabel USB, wriststrap, dan… headphone!

20130111_231643

Galaxy Camera dilengkapi Micro SIM slot, HDMI port dan Micro SD slot.

20130111_232111

Colokan Micro USB disamping untuk charging dan transfer data.

20130111_233318

Moda PASM di Galaxy Camera!

20130111_233413

Buat yang suka motret manual juga bisa!

20130113_202450

Pilihan moda video, bisa rekam slowmotion!

Galaxy Camera dalam moda Android nya. Apps!

Galaxy Camera dalam moda Android nya. Apps!

Daftar Toko Peralatan Fotografi & Videografi HDSLR Online Jakarta

Cari kamera? Lensa? Tripod, rig, batere, SD Card, CF, lighting? Selalu cek dulu spesifikasi dan harga pasaran yang wajar sebelum belanja, baik itu online maupun di toko fisik. Untuk membantu kita nyari peralatan yang dibutuhin, ini daftar toko-toko peralatan fotografi dan juga videografi HDSLR online, terutama di Jakarta. Tentunya ini bukan daftar lengkap, yang masuk di sini adalah yang didapat dari saran teman-teman. Semoga bermanfaat, dan kalau ada yang bisa menambahkan, monggo!

Bhinneka

Bursa Kamera Professional

Camera

EOSkamera

Focus Nusantara

HDSLR Shop

JPC Kemang

Mitra Kamera

MLM Foto

Oktagon

Photo Secret

Red Pixel Shop

Toko Camzone

Toko Digital Shop

Toko Doni

Setelah Video DSLR Jadi Mainstream, Apa Lagi?

image

Apa lagi yang bakal mengguncang dunia videography dan indie filmmaking? Lahirnya kemampuan rekam video di kamera DSLR merevolusi semuanya, memberi akses terjangkau untuk menciptakan video dengan visual yang bukan sekedar tajam namun juga punya dimensi. Tidak lagi datar dan hambar. Dengan begitu banyak pilihan di semua range harga, hampir semua filmmaking-enthusiast mampu beli HDSLR sekarang. Produsen kamera pun juga hepi. Teknologi sudah sampai di titik yang baru. Tapi terus apa lagi dari sisi hardware? Resolusi lebih tinggi? 4K? Ah, buat saya nggak menarik. Belum. Emangnya mau bikin apa sampai butuh Ultra HD? Selain overkill, harga kamera dan workflownya juga belum bersahabat. Yang saya tunggu adalah produk revolusioner, yang menggerakkan massa, yang terjangkau, dan masuk akal, bukan produk kelas atas yang overkill. Yang realistis.

Sebelum ada produk yang mendobrak seperti waktu pertama kali Nikon D90 keluar dengan kemampuan video, dan disusul Canon 5DMkII, rasanya sekarang ini seperti stagnan. Canon Cinema 1D? C300? RED? Ngiler? Saya sih nggak. Gimana yah, nggak kepake dan nggak kebeli. Ngapain ngiler? Kayaknya untuk waktu lama, memang HDSLR jadi solusi standard. Mungkin terobosan berikutnya bukan di kameranya. Di operasi, di workflow. Mobile devices seperti smartphone atau tablet sudah mulai masuk ke fotografi dan videografi. Seperti saya bisa mengendalikan secara live-view HDSLR saya di layar smartphone. Mungkin monitoring jadi lebih murah, focus pulling jadi lebih mudah. Entahlah, kita tunggu. Pastinya, bisa ada lagi yang membuat semuanya semakin praktis juga terjangkau.

Anyway, ini cuma ocehan saya yang gemes karena merasa mestinya bisa ada terobosan baru yang bikin semakin praktis, mudah dan murah. Ini karena ngelihat teknologi mobile computing lagi kenceng banget, tapi di ‘kamera’ terasa terlalu pelan mengadaptasinya.

Bikin Film Pendek Pakai Nikon D90?

Nggak terasa, udah lama sejak Nikon D90 dirilis, udah lama sejak saya nulis banyak hal soal Nikon D90 di blog ini. Harga udah sempat naik turun, dari jamannya belum ada yang garansi Alta, sampai habis, sampai ada lagi. Mulai banyak videografer amatir dan film enthusiast yang melirik si D90 ini karena kemampuan moda D-movie nya. Tapi setelah mencoba sendiri, ada hal-hal yang mutlak mesti disadari sebelum mikir untuk bikin film yang (agak) serius pakai D90. Dulu sudah pernah saya bahas, tapi setelah nyoba sendiri, jadi berasa banget beberapa point ini.

1. WAJIB GUNAKAN TRIPOD, TITIK.

Sedikit saja body bergoyang, efek jello akan langsung terlihat di gambar. Ini masalah rolling shutter.

2. TIDAK BOLEH ADA LAMPU NEON/FLUORESCENT, TITIK.

Begitu ada neon, banding alias garis scan yang bergeser pun muncul. Lupakan niat pake Kinoflo.

3. TIDAK BISA PAN CEPAT ATAU MEREKAM BENDA BERGERAK HORISONTAL CEPAT

Lagi-lagi masalah rolling shutter, ketika gerakan horisontal cepat, akan terjadi skewing.

4. TIDAK ADA SETTING MANUAL KECUALI FOKUS

Sadari hal ini. Ada triknya di blog ini, tapi sekedar trik, bukan cara set yang absolut.

Nah, setelah tahu batasan-batasan disana, bukannya mustahil bikin naratif yang memukau dengan D90. Okelah, yang ada banyak uang akan beli Canon 5DmkII yang baru saja dapat firmware baru yang memungkinkan kontrol manual. Tapi buat yang budgetnya terbatas, gambar Nikon yang lebih film-ish juga bisa mempesona orang. Sekarang pun ada yang lebih murah, Nikon D5000, tapi itu saya akan bahas lain kali. Sudah tahu kelebihan dan kekurangan alat yang kita punya, mestinya kita bisa merancang cerita yang juga pas bisa dihandle oleh si D90 ini.

Sony HVR-Z7E, HDV Camcorder Kecil dengan Interchangeable Lens!

HVR-Z7E, si HD kecil yang sudah interchangeable lens!

HVR-Z7E, si HD kecil yang sudah interchangeable lens!

Saya kemaren kelilingan internet ngecek harga HVR-Z1 karena sempat dibahas di kantor, ada kemungkinan mau beli. Memang si zee-one ini udah terbukti ‘cukup’ untuk film-out produksi film lokal kita selama nggak butuh gambar yang cantik dan DOF cetek. Kalau gambar yang flat-flat aja udah cukup buat film kita ya si Z1 ini bolehlah, jangan harap gambar yang cinematic amat ya. Kalau mau invest lagi mending beli Letus35 Extreme sekalian, jadi kalau suatu saat kalau butuh gambar yang lebih layak, bisa pakai lensa 35mm. Di total-total yah abis sekitar 75-80jt lah untuk HVR-Z1 dan mesen Letus35. Tapi, ternyata saya ketinggalan berita, baru tahu kalau sekarang Sony udah ngeluarin satu lagi HDV kecil kelas Z1, namanya HVR-Z7E. Apa istimewanya? Yang paling penting buat saya, ini HD camcorder kecil Sony pertama yang lensanya bisa dilepas digonta-ganti. Yihiy… Seru deh.

Okelah, memang bukan bisa digonta-ganti seenak jidat, tapi hanya bisa dengan lensa video HD yang 1/3 inch, buatan Fujinon atau Canon. Rasanya jarang juga yang udah punya HD video lens, atau minimal, saya belum kenal yang punya. Sekalinya ada juga yang 2/3 atau 1/2 inch, kalau mau pake itu bisa juga pakai adaptor standard. Nah, yang serunya soal lensa ini adalah si Z7E bisa pakai lensa DSLR Sony Alpha! Saya nggak tahu benar apa nggak perkiraan saya, tapi mengingat Sony Alpha itu adalah turunannya Minolta Dynax, jadi mestinya doi jadi bisa pakai lensa Minolta dong ya! Mmmm… Menarik!

25p Progressive Scan, udah cukup untuk film-out. Walau yah, bagusan lagi kalau 24p sih sebetulnya. Tapi nggak apa lah saya nggak mau pusingin yang itu. Satu yang menarik lagi adalah Z7E ini sudah bisa menggunakan CF/Compact Flash cards biasa untuk perekaman berbentuk file bagi yag sudah pakai workflow yang file-based. Kerjaan transfer pasti jadi lebih cepat, dan bebas segala resiko scratch dan sebagainya yang biasa ada di media tape. Tapi, buat yang masih pakai tape-based workflow, Z7E ini juga masih memakai tape transport jadi bisa tetap menggunakan media DVCam. Kalau kata iklan sarung, “Resmi bisa, santai bisa”. Mau pakai CF card? Hayuk! Masih pakai DVCam? Siapa takut!

Standardnya pakai lensa zoom Zeiss

Standardnya pakai lensa zoom Zeiss

Singkat kata, satu lagi kamera HD yang relatif murah sudah hadir dari Sony. Dirangkum secara singkat, poin-poin menarik dari HVR-Z7E adalah:

  • Interchangeable lens!
  • Bisa pakai lensa Sony Alpha atau lensa HD video 1/3″ Fujinon & Canon
  • Media fleksibel, merekam pakai DVCam atau pakai CF card!
  • Harga relatif terjangkau buat produksi kecil, cuma sedikit diatas HVR-Z1
  • Kabarnya, kemampuan lowlightnya setingkat Canon XL-H1 yang lebih mahal itu

Menimbang semua ini, saya jadi lebih condong untuk mengusulkan supaya produser beli ini aja dibanding HVR-Z1. Mestinya buat jangka panjangnya lebih menjanjikan, dan kalau nggak gengsi pakai lensa Alpha artinya nggak perlu lagi invest beli Letus35. Saya nggak akan bahas spec si HVR-Z7E, bisa aja langsung klik di sini untuk lihat di website-nya Sony atau klik di sini untuk lihat salah satu review di internet. Mau tahu soal harga? Saya cuma baru tahu harga kamera ini yang di website JPC Kemang, Jakarta, tapi lumayan lah udah ada yang garansi resmi Sony Galva.

Sejujurnya, semangat juga mau nulisin lebih detil lagi soal teknisnya tapi ngapain juga lah, udah banyak di mana-mana. Yang penting udah tahu kalau ada alternatif baru atas Sony HVR-Z1 dan Panasonic HVX-202. Mungkin habis ini saya sekedar bikin catatan tentang alternatif kamera lainnya biar nggak repot nge-google sana-sini lagi.

Rancangan Kamera 3K Scarlet Akan Diubah Total!

Dalam pemberitahuan mendadak dari Jim Jannard di forum Scarlet User kemarin, semua dikejutkan oleh pernyataan bahwa Scarlet akan diubah total dan akan menjadi berbeda total dari apa yang selama ini kita dengar dan ketahui!

We have changed everything about Scarlet because the market has changed and we have discovered a lot of things in the process. We have a new vision.

Wipe you minds of the past announced Scarlet. Forget the design and forget the price. It is all different now. We think you will be surprised. Glad we didn’t take any deposits… :-)

Jim”

Apa yang terjadi? Membaca pernyataan diatas bahwa pasar telah berubah, banyak yang menebak bahwa ini diantaranya karena kehadiran dua kamera DSLR yang sudah mempunyai kemampuan video HD dengan harga yang cukup menggebrak. Tapi, sebetulnya kehadiran Nikon D90 dan Canon 5DMkII sebagai sekedar kamera alternatif eksperimental ini jauh dari ancaman serius bagi Red dan Scarletnya. Ke dua DSLR ini masih sekedar coba-coba dan belum bisa dianggap kamera video yang serius, lah wong intinya mereka itu kamera still photo kok. Tapi, cukup menggembirakan juga kalau perombakan Scarlet ini berarti Red semakin kompetitif.

Waktu Red One keluar, gebrakannya luar biasa dan konon sampai-sampai cukup membuat Sony dan Panavision jadi dipaksa berpikir lagi akan pasar. Memang, dibanding lainnya Red One luarbiasa kompetitif, baik dari kemampuan maupun harga. Bisa dikatakan, harganya sangat miring! Tapi ya, semiring-miringnya Red One, tetap saja masih bukan benda ‘murah’. Setelah Red One, kamera Red berikutnya yang paling dinantikan adalah Scarlet yang memiliki resolusi 3K dan dikatakan harganya hanya sekitar $3000. Luar biasa murah! Sekarang, harus diakui kehadiran DSLR berkemampuan HD video macam Nikon D90 dan Canon 5DMkII yang harganya dibawah $3000 tentunya akan menarik sebagian pengimpi Scarlet untuk mencoba video lewat DSLR. Dua DSLR bervideo ini banyak batasan, tapi minimal sudah interchangeable lens. Red kelihatannya merespon dan tidak mau tinggal diam.

Salah satu dugaan bahwa Scarlet akan diubah menjadi interchangeable lens sudah dibantah oleh Janard. Minimal kita sudah tahu pasti, Scarlet tetap dengan fixed lens. Katanya, ini adalah karena pertimbangan ukuran sensor yang berbeda, tapi kita dihibur dengan pernyataan bahwa Scarlet akan dipersenjatai lensa paling gahar di kelasnya. Bagaimana kelanjutannya? Yang pasti sekarang sedang heboh di forum-forum. Dan kalau memang bisa punya Scarlet dengan harga sekitar $3 ribu, pastinya banyak yang mau. Asal sabar aja, karena secepat-cepatnya Scarlet baru akan bisa rilis pertengahan tahun 2009 dan sudah pasti ngantri lagi seperti Red One. Jannard mengatakan kali ini volume produksinya dinaikkan jadi tidak akan perlu menunggu lama seperti Red One. Semoga bener ya. Dan kalau saya sih, semoga murah.